Senin, 17 Juni 2013

NYETIR BUKAN NYENGIR



Saya sedikit “terpaksa” termasuk penikmat mengendarai mobil sendiri tanpa sopir. Alasan utamanya memang penghasilan belum mencukupi untuk ‘share penghasilan” ke  driver. Buat saya men”nyopir” kendaraan bisa jadi aktivitas keren yang menyenangkan. Saya merasa kece paripurna saat duduk manis dibelakang kemudi [baca nyopir]. PD tingkat dewapun terjadi saat sun glases [baca kocomoto ireng] sudah nempel  di hidung. Menurut saya wanita bisa nyetir sangatah keren dan terkesan mandiri. Sebagai wanita pekerja, yang belum mampu menggaji sopir, tuntutan mandiri menjadi suatu keharusan. Kebisaan  saya menyetir terjadi saat usia sudah menginjak 26 tahun dan dalam KK sudah tertera nama 2 anak [sedikit telat kali ya].

Pemerintah Arab Saudi melarang perempuan menyetir kendaraan. Alasannya untuk menghindari kecelakaan serta menyetir bisa berakibat wanita  lebih sering meninggalkan rumah [bener bangets pake s] Pemerintah beralasan hal itu dinilai kurang baik. Kondisi ini sangat kontras dengan Indonesia, pemandangan kaum hawa mengendarai mobil sendiri hampir 25% memenuhi jalanan. Sampai  pengendara  taxi atau bis pun seorang wanita
.
Saat ini mobil sudah menjadi tempat paling sering di kencani setelah rumah dan kantor. Banyak barang seperti buku, baju kerudung sepatu, sandal, tas mukena dll saya simpan di bagasi.  Jadi jangan kaget kalo mencari sesuatu barang tidak ada di kedua tempat, carilah di mobil. Bahkan temen saya menyimpan 25-30 koleksi sepatunya di dalam bagasi mobil.. wow luar biasa.

Duduk dibelakang setir sambil menikmati siraman rohani dari alm KH Zainnudin MZ merupakan rutinitas menyenangkan dalam beberapa tahun terakhir ini. Jalanan  boleh semakin padat merayap, dan bising semriwing oleh banyaknya volume kendaraan. Hati harus tetap adem agar ketenangan bathin selalu terjaga. Saat kebosanan melanda, ada music asyik yang siap menemani. Ikut bernyanyi, sesekali berteriak sambil menggoyangkan kepala mengikuti alunan irama. Duh indah banget. Air mineral, makanan ringan, permen jangan samapi lupa. Tak jarang dandanpun juga saya lakukan dimobil demi mengejar “clock in” tepat pukul 08:00.

Ada banyak cara menghilangkan kejenuhan dalam berkendara. Kreativitas perlu dimainkan. Mengganti rute perjalanan, berangkat kerja lebih awal, memutar music yang sedikit ngebeat.  Rute standart memang sudah ada, sesekali mencoba rute yang agak jauh dengan view real estate mewah yang tampak asri juga menarik  sambil berandai-andai  saya memiliki kesempatan punya rumah super mewah seperti itu. Asyik kan?

Pengalaman mengasikan berkendara yang tak terlupakan saat saya & anak anak, serta sahabat [Sri Mardiati] nekat menempuh perjalanan darat dari Palangkaraya ke Banjarmasin yang berjarak 195 km dengan kondisi jalan bukan aspal, dan kiri kanan masih hutan. Yang kedua yang tak kalah seru adalah saat ngebut dijalan tol Gunungsari ke Bandara yang saya dalam waktu yang relatif singkat karena kecepatan mencapai 140km/jam saking khawatir tertinggal pesawat.

Banyak manfaat yang didapat dengan berkendara sendiri. Hemat biaya, hemat waktu, praktis tidak bergantung sama orang lain dan menambah kekerenan. Jadi, buat wanita manapun wajib untuk bisa mengendarai mobil. wow 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar