Saya sedikit “terpaksa” termasuk penikmat mengendarai mobil sendiri tanpa sopir. Alasan utamanya memang penghasilan belum mencukupi untuk ‘share penghasilan” ke driver. Buat saya men”nyopir” kendaraan bisa jadi aktivitas keren yang menyenangkan. Saya merasa kece paripurna saat duduk manis dibelakang kemudi [baca nyopir]. PD tingkat dewapun terjadi saat sun glases [baca kocomoto ireng] sudah nempel di hidung. Menurut saya wanita bisa nyetir sangatah keren dan terkesan mandiri. Sebagai wanita pekerja, yang belum mampu menggaji sopir, tuntutan mandiri menjadi suatu keharusan. Kebisaan saya menyetir terjadi saat usia sudah menginjak 26 tahun dan dalam KK sudah tertera nama 2 anak [sedikit telat kali ya].
Pemerintah Arab Saudi melarang perempuan menyetir
kendaraan. Alasannya untuk menghindari kecelakaan serta menyetir bisa berakibat
wanita lebih sering meninggalkan rumah [bener bangets pake s] Pemerintah beralasan
hal itu dinilai kurang baik. Kondisi ini sangat kontras dengan Indonesia, pemandangan
kaum hawa mengendarai mobil sendiri hampir 25% memenuhi jalanan. Sampai pengendara
taxi atau bis pun seorang wanita.
Saat ini mobil sudah menjadi tempat paling sering
di kencani setelah rumah dan kantor. Banyak barang seperti buku, baju kerudung
sepatu, sandal, tas mukena dll saya simpan di bagasi. Jadi jangan kaget kalo mencari sesuatu barang tidak
ada di kedua tempat, carilah di mobil. Bahkan temen saya menyimpan 25-30
koleksi sepatunya di dalam bagasi mobil.. wow luar biasa.
Duduk dibelakang setir sambil menikmati siraman rohani dari alm KH Zainnudin MZ merupakan rutinitas menyenangkan dalam beberapa tahun terakhir ini. Jalanan boleh semakin padat merayap, dan bising semriwing oleh banyaknya volume kendaraan. Hati harus tetap adem agar ketenangan bathin selalu terjaga. Saat kebosanan melanda, ada music asyik yang siap menemani. Ikut bernyanyi, sesekali berteriak sambil menggoyangkan kepala mengikuti alunan irama. Duh indah banget. Air mineral, makanan ringan, permen jangan samapi lupa. Tak jarang dandanpun juga saya lakukan dimobil demi mengejar “clock in” tepat pukul 08:00.
Ada banyak cara menghilangkan kejenuhan dalam
berkendara. Kreativitas perlu dimainkan. Mengganti
rute perjalanan, berangkat kerja lebih awal, memutar music yang sedikit
ngebeat. Rute standart memang sudah ada, sesekali
mencoba rute yang agak jauh dengan view real estate mewah yang tampak asri juga
menarik sambil berandai-andai saya memiliki kesempatan punya rumah super mewah
seperti itu. Asyik kan?
Pengalaman mengasikan berkendara yang tak terlupakan saat saya & anak anak, serta sahabat [Sri Mardiati] nekat menempuh perjalanan darat dari Palangkaraya ke Banjarmasin yang berjarak 195 km dengan kondisi jalan bukan aspal, dan kiri kanan masih hutan. Yang kedua yang tak kalah seru adalah saat ngebut dijalan tol Gunungsari ke Bandara yang saya dalam waktu yang relatif singkat karena kecepatan mencapai 140km/jam saking khawatir tertinggal pesawat.
Banyak manfaat yang didapat dengan berkendara
sendiri. Hemat biaya, hemat waktu, praktis tidak bergantung sama orang lain dan menambah kekerenan. Jadi, buat wanita manapun wajib untuk bisa mengendarai mobil. wow